Pada dasarnya, manusia diberi bekal akal untuk selalu menimbang mana yang benar dan mana yang salah, dan hati (qolb) untuk memilah mana yang sekiranya baik dan buruk. Maka dengan seiring berjalannya roda kehidupan, makin banyaklah ilmu dan pengalaman yang telah dilalui, yang harusnya telah memberi pelajaran yang sangat berharga kepada manusia itu sendiri. Baiklah, disini kita akan membicarakan masalah yang sepele tetapi akan menjadi runyam jikalau itu tidak diperhatikan dan dipahami. Ialah jangan terlalu kaku terhadap sesuatu hal apapun!. Bahasa sederhananya ialah jangan terlalu sibuk dengan “kulit” sehingga lupa dengan fungsi atau essensial dari sesuatu.
Pengalaman berharga yang saya dapatkan hari ini, kebetulan waktu mengikuti perkuliahan penelitian kuantitatif dosen bercerita tentang temannya yang hanya lulusan madrasah tsanawiyah, karena adat istiadat setempat yang mengharuskannya menikah di usia beliau, dia mampu membuktikan dia memiliki jiwa enterpreuneur yang kuat dan membuktikan bahwa tanpa sekolah pun dia dapat “Hidup”!. ini tidak berlebihan disebabkan hanya dalam tiga minggu income bersih usaha penjualan coklatnya kurang lebih 3 milyar. Walaupun dia tidak pernah membaca buku perekonomian milik seorang sarjana, tapi percayalah, dia tidak butuh itu dalam kehidupannya. Baginya, kehidupan itu simple, berbuatlah dengan dasar kejujuran dan kesabaran niscaya kamu akan mendapatkan kebarokahan disitu, pas seperti apa yang dipelajarinya waktu mengenyam pendidikan madrasah ibtidaiyah dulu.
Banyak teori yang mengatakan bahwa, pendidikan akan berpengaruh kepada kehidupan, semakin tinggi pendidikan yang dienyam maka semakin sejahtera pula kehidupan. Pedoman inilah yang digunakan dalam pengkuran suatu penelitian karena ukuran pendidikan adalah sebagai mana dia tinggi mengenyam pendidikan formalnya.
Ini adalah suatu fenomena, tetapi kemungkinan menjadi sebuah kenyataan umum, manakala pendidikan formal hanya sebagai penjara bagi kreatifitas dan perkembangan intelektual dan emosional manusia, sedangkan orang yang mengenyam pendidikan non formal dapat mengapresiasikan ide-ide cemerlangnya tanpa interupsi nilai merah dari guru.
Cerita diatas memberi gambaran kita bahwa sekolah bukan hanya satu-satunya tempat kita mencari ilmu, tempat kita belajar. Itu adalah pemikiran yang sangat sempit sekali, berani dikatakan itu adalah pemikiran yang picik. Kalau tidak sekolah maka dia tidak terpelajar, jika dia belum memiliki gelar sarjana dia belum bisa dikatakan kaum intelektual. Apakah batasan belajar hanya sebatas itu saja dan apakah kalau dia tidak mempunyai ijazah selembarpun dia harus putus dari belajar. Tentu tidak
Cerita diatas memberi pengertian kita,bahwa belajar tidak dalam artian sesempit itu. Belajar bisa dimana-mana, disawah, dirumah, bahkan dipasar pun kita dapat belajar. Dia tidak perlu kuliah mahal-mahal atau ikut kursus enterpreneurship untuk menjadi pengusaha. Padahal banyak sarjana yang nyatanya setelah lulus hanya menganggur. Cukuplah alam dan pengalaman yang mengajarinya menjadi seseorang yang mandiri.
Saya tidak melarang seorang pun untuk sekolah, dan tidak menghina bagi seorang yang ingin atau sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya sangat apresiatif sekali jika anda ingin meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, tetapi marilah kita merefleksikan diri kita masing-masing untuk meletakkan esensi belajar pada tempat yang semestinya.
PPAH Malang, 27 mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar