Senin, 03 Mei 2010


Kecerdasan Emosi "pembeda antara mesin dan manusia"

Latar Belakang

Selama ini yang namanya kecerdasan senantiasa dikonotasikan dengan Kecerdasan Intelektual atau yang lenih dikenal sebagai IQ (Intelligence Quotent). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual sudah tidak berlaku lagi.

Memasuki abad 21, legenda IQ (Intelligence Quotent) sebagai salah satunya tolok ukur kecerdasan yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan manusia, digugurkan oleh munculnya konsep Kecerasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient). Kecerdasan manusia ternyata lebih luas dari anggapan yang dianut selama ini. Kecerdasan manusia bukanlah merupakan suatu hal yang bersifat dimensi tunggal semata, yang hanya bias diukur dari satu sisi dimensi saja (dimensi IQ). Kesuksesan manusia dan juga kebahagiaanya ternyata lebih terkait dengan beberapa jenis selain IQ. Menurut hasil penelitian setidaknya 75 % kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya (EQ) dan hanya 4 % yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa kecerdasan tidak mutlak menentukan kesuksesan sesorang dalam belajar maupun di tempat kerja. Banyak contoh menunjukkan, siswa yang cerdas tapi rendah kontrol diri, impulsif, kurang dapat bekerjasama, motivasi belajar rendah, maka siswa tersebut cenderung kurang sukses dalam kariernya. Sebaliknya siswa yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata tetapi memiliki kematangan emosi maka siswa tersebut cenderung sukses.

Sekilas Tentang Kecerdasan Emosi

Istilah ini pertama kali dipakai tahun 1990 oleh Peter Solevey (Harvad University) dan John Meyer (University of New Hamshire), dan menjadi populer berkat buku Daniel Goleman: “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ” (1995), untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas – kualitas ini antara lain; empati, memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan adaptasi, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan rasa hormat.

Penelitian – penelitian telah membuktikan bahwa keterampilan EQ yang sama untuk membuat anak bersemangat tinggi dalam belajar, atau untuk disukai oleh teman – temannya di area bermain, juga akan membantunya pada dua puluh tahun kedepan kemudian setelah masuk kedalam dunia kerja atau ketika sudah berkeluarga (Emosianal Intellence hal. 6.).

Berbeda dengan IQ, EQ sulit untuk diukur, namun walaupun kita tidak dapat begitu saja mengukur bakat atau sifat – sifat khas seseorang, misalnya kemarahan, percaya diri atau sikap hormat kepada orang lain, kita dapat mengenali sifat – sifat tersebut pada anak – anak dan sepakat bahwa sifat – sifat tersebut mempunya nilai penting.

Barangkali perbedaan yang paling penting untuk diketahui antar IQ dan EQ adalah, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh factor keturunan, sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para pendidik untuk melanjutkan apa yang sudah disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar untuk meraih keberhasilan. (Emosional Intelegence hal. 10). Disinilah orang tua berpeluang dan mempunyai kesempatan yang tidak dapat diulang, untuk membentuk pribadi anak yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik.

Dengan melihat kualitas – kualitas yang ditunjukkan dalan kecerdasan emosional, kita akan sepakat bahwa karakter – karakter itulah yang diharapkan kita sebagai makluk social dan dengan memiliki beberapa kualitas tersebut, seorang anak atau orang dewasa akan dapat menghadapi permasalahan – permasalahan hidup yang semakin komplek dan berhubungan dengan orang lain.

Pengertian Kecerdasan Emosional

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan ke arah yang positif.

Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.

Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.

Jadi orang yang cerdas secara emosi bukan hanya memiliki emosi atau perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan orang itu kita rasakan juga.

Tidak ada standar test EQ yang resmi dan baku. Namun kecerdasan Emosi dapat ditingkatkan, baik terukur maupun tidak. Tetapi dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup.

Istilah Kecerdasan Emosional (EQ) baru dikenal secara luas pada pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannnya buku Daniel Goleman: Emotional Intelligence. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Menggunakan ungkapan Howard Gardner, kecerdasan emosi terdiri dari kecakapan, diantaranya; intrapersonal intelligence dan interpersonal intelligence. Intrapersonal Intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan kita sendiri yang terdiri dari;

1. Kesadaran diri, meliputi; keadaan emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri

2. Pengaturan diri, meliputi; pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif

3. Motivasi, meliputi; dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis

Sedangkan Interpersonal Intellience merupakan kecakapan berhubungan dengan orang lain yang terdiri dari

1. Empati, meliputi; memahami orang lain, pelayanan mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis

2. Keterampilan social, meliputi : pengaruh komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan kooperasi serta kerja tim.

Melatih Kecerdasan Emosi

1. Dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi; kenali apa saja yang berkecamuk dalam dada dan suara-suara yang memerintah untuk bertindak.

2. Melakukan kontrol diri terhadap berbagai bentuk emosi yang ada; cara mengendalikan diri ketika marah, tidak terpuruk ketika merasa kecewa, dapat bangkit dari kesedihan, mampu memotivasi diri dan bangkit ketika tertekan, mengatur diri dari kemalasan, menetapkan target yang menantang namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan maupun kegagalan dengan lapang dada.

Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:

a. Kemampuan Pribadi

ü Pengenalan diri (Self Awareness), memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.

ü Manajemen diri (Self Management), mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi

ü Orientasi Tujuan (Goal Orientation), mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.

b. Kemampuan Sosial

ü Empati: mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.

ü Keahlian sosial (Social skills): mampu berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.

Unsur Yang Membangun Kecerdasan Emosi

Setidaknya ada 5 unsur yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:

1. Memahami emosi-emosi sendiri

2. Mampu mengelola emosi-emosi sendiri

3. Memotivasi diri sendiri

4. Memahami emosi-emosi orang lain

5. Mampu membina hubungan sosial

Untuk mengetahui seberapa kecerdasan emosi yang dimiliki setiap orang, kelima unsur diatas dapat dijadikan barometer untuk mengukur apakah orang tersebut termasuk orang yang cerdas secara emosi. Berikut ini adalah hal-hal spesifik yang perlu dipahami dan dimiliki oleh orang-orang yang cerdas secara emosi:

Mengatasi Stress

Stress merupakan tekanan yang timbul akibat beban hidup. Stress dapat dialami oleh siapa saja. Toleransi terhadap stress merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur. Ini berarti mengelola stress dengan positif dan merubahnya menjadi pengaruh yang baik.

Orang yang cerdas secara emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tegar dan tidak hanyut oleh emosi yang kuat. Cenderung menghadapi semua hal, bukannya lari dan menghindar. Dapat mengelakkan pukulan sehingga tidak hancur dan tetap terkendali. Mungkin sesekali terjatuh namun tidak terpuruk sehingga dapat berdiri tegak kembali.

Mengendalikan Dorongan Hati

Merupakan karakteristik emosi untuk menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Hal ini sering juga disebut “menahan diri”. Orang yang cerdas secara emosi tidak memakai prinsip “harus memiliki segalanya saat itu juga”. Mengendalikan dorongan hati merupakan salah satu seni bersabar dan menukar rasa sakit atau kesulitan saat ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar dimasa yang akan datang. Kecerdasan emosi penuh dengan perhitungan.

Mengelola Suasana Hati

Merupakan kemampuan emosionil yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dalam suasana apapun, menghilangkan gelisahan yang timbul, mengatasi kesedihan atau berdamai dengan sesuatu yang menjengkelkan.

Orang yang cerdas secara emosi tidak berada dibawah kekuasaan emosi. Mereka akan cepat kembali bersemangat apapun situasi yang menghadang dan tahu cara menenangkan diri.

Mengelola suasana hati bukan berarti menekan perasaan. Salah satu ekspresi emosi yang bisa timbul bagi setiap orang adalah marah. Menurut Aristoteles, Marah itu mudah. Tetapi untuk marah kepada orang yang tepat, tingkat yang tepat, waktu, tujuan dan dengan cara yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang cerdas secara emosi.

Ketiga hal tersebut diatas, merupakan kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi-emosi diri sendiri yang harus dimiliki oleh orang-orang yang dikatakan cerdas secara emosi.

Memotivasi Diri
Orang dengan keterampilan ini cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka hadapi. Ada banyak cara untuk memotivasi diri sendiri antra lain dengan banyak membaca buku atau artikel-artikel positif, “selftalk”, tetap fokus pada impian-impian, evaluasi diri dan sebagainya.

Memahami Orang lain

Menyadari dan menghargai perasaan-perasaan orang lain adalah hal terpenting dalam kecerdasan emosi. Hal ini juga biasa disebut dengan empati. Empati bisa juga berarti melihat dunia dari mata orang lain. Ini berarti juga dapat membaca dan memahami emosi-emosi orang lain. Memahami perasaan orang lain tidak harus mendikte tindakan kita. Menjadi pendengar yang baik tidak berarti harus setuju dengan apapun yang kita dengar.

Keuntungan dari memahami orang lain adalah kita lebih banyak pilihan tentang cara bersikap dan memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

Kemampuan Sosial

Memiliki perhatian mendasar terhadap orang lain. Orang yang mempunyai kemampuan sosial dapat bergaul dengan siapa saja, menyenangkan dan tenggang rasa terhadap orang lain ynag berbeda dengan dirinya.

Tingkah laku seperti itu memerlukan harga diri yang tinggi, yaitu: menerima diri sendiri apa adanya, tidak perlu membuktikan apapun (baik pada diri sendiri maupun orang lain), bahagia dan puas pada diri sendiri apapun keadaannya.

Kemampuan sosial erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan sosial dengan siapa saja. Orang-orang senang berada disekitar mereka dan merasa bahwa hubungan ini berharga dan menyenangkan. Ini berarti kedua belah pihak dapat menjadi diri mereka sendiri.

Orang-orang dengan kecerdasan emosi yang tinggi bisa membuat orang lain merasa tentram dan nyaman berada didekatnya. Mereka menebar kehangatan dan keterbukaan atau transparansi dengan cara yang tepat.

Kesimpulan

Keberhasilan kecerdasan emosional seseorang berpengaruh pada kesuksesan seseorang masa mendatang, juga berpengaruh pada kesuksesan seseorang pada masa mendatang, juga berpengaruh pada prestasi belajar dan bekerja. Hal tersebut sudah harus diberikan sejak usia anak mengenal tantangan di dunia luar kehidupan dirinya, yakni sejak balita.

Kecerdasan tersebut tidak hanya dibutuhkan di dalam proses belajar di bangku sekolah atau kehidupan berkeluarga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas sampai ke jenjang dunia kerja. Dan apabila kita kumpas, kita akan bisa lihat manfaat dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

DAFTAR RUJUKAN

Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta; PT Bumi Aksara

Jumadi, Asnawi. Sun, 07 Aug 2005 18:17:52. Paradigma Baru Kecerdasan Manusia. http://www.mailarchive.com/formiskat@groups.plnkalbar.co.id

Yunita, Riny. Minggu, 25 Januari 2009. Kecerdasan Emosi. http://rinyyunita.wordpress.com

WWW.fedus.org